Pages

My Slide

Cover Photos Slideshow: Ju’s trip from Medan, Sumatra, Indonesia to Pekanbaru was created by TripAdvisor. See another Pekanbaru slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Jumat, 29 November 2013

TEGUH DI JALAN DAKWAH




Oleh: Jumardi, S.Ud.


Di antara tabiat jalan dakwah adalah dipenuhi berbagai gangguan yang dapat membinasakan, serta kendala yang dapat melemahkan semangat. Tidak ada yang dapat meretas gangguan serta kendala tersebut, dan tidak ada pertahanan yang paling kuat darinya melainkan keteguhan di jalan dakwah (tsabat). (Hasan al-Banna)
Di antara manusia ada yang terjangkiti penyakit ketergesaan (isti`jal), karena jiwanya kerdil dan tidak tahan uji. Imam Syahid mengatakan orang-orang seperti itu dengan orang-orang yang miskin. Beliau berkata, “orang-orang miskin seperti itu akan mudah terhenti dan tidak akan sampai ke tujuan”. Oleh karena itulah, Allah swt. memerintahkan hamba-Nya agar bersabar dan memperingatkannya dari ketergesaan. Allah swt. berfirman kepada Rasul-Nya, “Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dan rasul-rasul, dan janganlah kamu minta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)
Di antara manusia ada yang beribadah kepada Allah tidak secara mantap (tidak sepenuhnya). Ia tetap berada di jalan dakwah bila kondisi aman, tiada ujian dan tiada gangguan. Orang-orang seperti itu akan segera berbalik 180 derajat bila mendapatkan ujian, sehingga mendapat kerugian dalam segala hal. Karena itu, sabar dan keteguhan merupakan suatu keharusan.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. “ (al-Hajj: 11).
Sayyid Quthb dalam tafsirnya menjadikan judul pembahasan pada ayat ini dengan barometer akidah. Dimana kata beliau sesungguhnya akidah itu merupakan fokus dalam kehidupan setiap mukmin. Walaupun dunia di sekitarnya goncang, namun mukmin tetap berpegang pada akidah itu. Walaupun kejadian dan peristiwa menariknya untuk terjerumus, namun jiwa yang beriman selalu kokoh bertahan laksana batu yang keras. Dan, walaupun segala sandaran di sekitarnya telah runtuh, namun orang beriman selalu dapat bersandar kepada pondasi akidah yang tidak akan pernah berubah dan hilang.
Itulah nilai akidah dalam kehidupan muslim, nilai akidah dalam kehidupan aktivis dakwah. Oleh karena itu, orang-orang yang beriman harus bersandar kepadanya, merasa tenang dengannya, yakin terhadapnya, dan tidak mengambil keuntungan darinya, serta tidak menunggu imbalan baginya karena akidah itu sendiri merupakan balasan. Hal itu disebabkan suatu hakikat bahwa akidah itu merupakan tempat berlindung yang menaungi dan sandaran tempat bertopang.
Sedangkan, orang-orang bodoh yang tidak teguh memegang akidah dan ibadah mereka adalah orang-orang yang menjadikan akidah, dakwah sebagai barang dagangan di pasar. Bila memperoleh kebajikan, dia akan berkata, “Sesungguhnya iman itu baik”, karena dia memperoleh manfaat, dapat memerah susu, memanen buah-buahan, mengambil keuntungan dalam bisnis, dan menjamin sirkulasi barang. Namun, “….Dan jika ia ditimpa suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(al-Hajj: 11).
Mereka rugi di dunia dengan tertimpanya musibah kepada mereka. Kemudian mereka tidak bersabar menanggungnya dan bertahan melaluinya serta mereka tidak kembali memohon pertolongan kepada Allah. Di akhirat dia pun merugi dengan berbaliknya dia kepada kekufuran karena musibah yang menimpa wajahnya, keberpalingannya dari akidahnya, dan keengganannya dari hidayah. Sehingga, dia ditimpa kehinaan yang menjerumuskannya ke dalam hawa nafsu.
Al-qur`an menggambarkan ibadah mereka kepada Allah dengan “ala harfin”, opurtunistis, dan tidak pernah kokoh dalam memegang prinsip akidah dan tidak pula tetap dalam beribadah. Ia menggambarkannya dalam gerakan fisik yang miring dan hampir runtuh walaupun hanya disentuh sedikit, Oleh karena itu, hukuman yang semisal ditimpakan pula kepada mereka; dan sikapnya yang miring itu ditangguhkan beberapa saat sebelum hukuman yang sama berbalik menimpa mereka!
Sesungguhnya perhitungan untung-rugi hanya cocok untuk perdagangan dan jual beli. Namun, ia sama sekali tidak cocok untuk akidah. Pasalnya, akidah itu suatu kebenaran yang dianut karena kebenarannya sendiri dengan tersentuhnya hati yang menangkap cahaya dan hidayah Allah, di mana dia tidak mungkin dapat menahan dirinya untuk tidak terpengaruh dengan apa yang diterimanya. Akidah membawa balasan dengan sendirinya yaitu ketenangan, ketentraman, dan keridhaan. Ia (akidah) tidak menuntut balasan dari luar dirinya sendiri.
Orang-orang yang beriman menyembah Allah untuk mensyukuri-Nya atas hidayah-Nya kepadanya, ketenangannya karena dekat dengan-Nya, dan kebahagiaan bersama-Nya. Bila di sana ada tambahan balasan, maka hal itu merupakan karunia tambahan dari Allah karena iman dan ibadahnya.
Orang-orang yang beriman tidak akan menguji Tuhannya. Mereka menerima semua ketentuan-Nya yang telah memutuskan perkara bagi mereka. Mereka telah menyerahkan diri mereka sejak awal kepada apa pun dari ujian Tuhannya, dan sejak awal telah meridhai apa yang menimpa mereka baik kesenangan maupun kemudharatan. Jadi, akidah itu bukan barang dagangan yang ditukarkan antara penjual dan pembeli. Sesungguhnya akidah itu adalah penyerahan total seorang makhluk kepada Khaliknya Yang Maha Mengendalikan segala urusan dan sumber keberadaannya sejak awal.
Orang yang berpaling kembali kepada kekufuran dan murtad ketika menghadapi ujian dan musibah, pasti akan ditimpa kerugian yang tidak ada duanya, “… Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Dia rugi tidak mendapatkan ketenangan, keyakinan, ketenteraman, dan keridhaan. Di samping itu, juga kerugian harta benda, anak, kesehatan, atau kenikmatan-kenikmatan kehidupan lainnya yang dengannya Allah menguji para hamba-Nya, menguji keyakinan mereka, kesabaran mereka atas musibah dari-Nya, keikhlasan mereka terhadap-Nya, dan kesiapan mereka untuk menerima ketentuan qadha` dan qadar-Nya. Dia rugi di akhirat karena tidak bisa menikmati segala kesenangan di dalamnya, tidak merasakan kedekatan dengan Allah, dan menerima ridha-Nya. Sungguh benar-benar kerugian yang nyata.
Kemana arah yang dituju oleh orang-orang yang menyembah dengan berada di tepi? Kemana dia bisa menghindar jauh dari Allah? Sesungguhnya dia menyeru,
ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (al-Hajj: 12).

Jumardi, S.Ud.
Alumni Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau
Kaderisasi Ikatan Da`i Indonesia Kab. Indragiri Hilir

0 komentar:

Posting Komentar