Pages

My Slide

Cover Photos Slideshow: Ju’s trip from Medan, Sumatra, Indonesia to Pekanbaru was created by TripAdvisor. See another Pekanbaru slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

Jumat, 11 Januari 2013

KAMMI ADALAH PENGGERAK BUKAN DIGERAKKAN!


Oleh: Jumardi (Riau)

Berada di KAMMI, Selain bisa menambah rasa cinta kepada KAMMI, juga menyadarkan kita kembali akan pentingnya suatu gebrakan untuk gerakan KAMMI yang betul-betul murni ke depannya karena Allah. Tidak disadari memang, terkadang gerakan KAMMI bergerak ke perbatasan  yang dilarang, hingga terlupa jalan kembali. Namun dengan kekuatan ikatan ukhuwah ada saja cara Allah menunjukan jalan kembalinya. Begitulah kemudian KAMMI tetap berada pada asholahnya. Tidak lagi berpikir cara instan menjadi kupu-kupu. Secara bertahap ia terus membenah diri menjadi yang terindah.

Di situlah uniknya berada di KAMMI. Ada saja panah yang melesap melewati wajah-wajah mujahidnya. Hampir saja menggoreskan luka yang berbekas, namun secepat kilat ia mengelak bak pendekar yang berpengalaman. Secara reflek ia merayap dan mencari si pemanah. Apa yang kemudian ia lakukan? Bukan belajar dari awal menyusun strategi atau taktik perang, namun langsung pada praktek atas teori yang belum teraplikasikan. Ia pun membalas menyerang.

Rabu, 02 Januari 2013

Desa Belantaraya; Kampung Inspirasiku

Aku lahir di sebuah desa bernama Belantaraya, Kecamatan Gaung, kabupaten Indragiri hilir, Riau. Setelah aku berumur 10 tahun sering aku dengar orang menyebut kampungku itu dengan “Belantak”. Belantaraya. 
Nama ini mungkin dinisbatkan karena dulu hutan yang begitu lebat di sekeliling desa, sebelum dibabat habis oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Kita hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja untuk sampai ke hutan Belantaraya dari pusat desa. Sedangkan “Belantak” adalah sebutan yang selalu dilontarkan oleh orang melayu desa atau orang kampung sebelah yang konon dulunya di perairan desa ini sering kali terjadi tabrakan speed boat dan kapal pemuat kayu balak. 
Kampung kelahiranku ini tidak begitu luas, kalau kita ke hilir hanya 15 menit pakai pompong akan mentok dengan desa Pintasan. Kalau ke Hulu hanya 30 menit pakai pompong mentok dengan desa Pungkat. Kalau ke utara akan mentok dengan hutan yang aku tak tahu sampai kemana. Sedang ke selatan hanya 1 jam pakai sepeda mentok dengan desa Sungai Empat. 
Di kampung ku ini memilki berbagai macam suku dan adat istiadat. Suku banjar adalah suku yang mendominasi sekitar 75% selebihnya adalah suku melayu (15%), Jawa (3%), Bugis (2%), Minang (1%), lainnya Tionghua, batak,dan  Palembang.
Di sebelah Barat terdapat rawa-rawa sepanjang 1 jam perjalanan pakai pompong. Di rawa-rawa ini terdapat parit-parit. Parit Baru, Parit Kampas, Parit 1,2,,4,5,6, dan 7. Di Parit 4 yang pertama kali merintis adalah orang tuaku. Parit 4 ada dua, yaitu parit 4 melayu dan parit 4 Banjar. Di parit 4 Banjar hampir seluruhnya diisi oleh suku Banjar, sedang di parit 4 Melayu hampir seluruhnya diisi oleh orang Melayu. Letak kedua parit ini berseberangan antara rawa-rawa. Di parit Kampas didominasi oleh orang melayu dan Banjar. Di parit 1 di dominasi orang melayu. Sedang di parit 2,4,5,6, dan 7 semuanya didominasi orang Banjar. 

Dominasinya orang Banjar di parit-parit ini memang yang pertama kali merintisnya adalah orang Banjar yang beranak pinak, menikah, kemudian beranak pinak lagi hingga tumbuh pesat.
Sementara di pusat desa, tempat tinggalku dan tempat aku dilahirkan adalah tempat padat penduduk, sekitar 5 ribu jiwa. Di pusat desa yang sering disebut pasar belantaraya ini merupakan icon desa. Di pasar ini di sebelah timur atau sering kami sebut dengan sebelah hilir terdapat beberap parit, yaitu, parit surau, 3, dan 4. Sebelah barat yang kami sebut dengan sebelah hulu ada Sungai Belantak dan Parit Baru. Di tengah desa disebut dengan Pasar Belantaraya. Di pasarnya ini di dominasi oleh orang Minang, Tionghua, dan Banjar. Di sebelah hilir hampir semua diisi oleh orang Banjar. Begitu juga di sebelah hulu. Hanya saja di bagian RT-RTnya seperti RT 2 bagian hulu di dominasi orang Melayu, sementara di RT 3 dan 4 rata-rata orang Banjar.
Desa ini adalah desa yang pasarnya per pekan. Yaitu hari Rabu. Nah jika hari Rabu tiba, maka kita akan menemukan pasar Belantaraya ini akan penuh dengan manusia dari berbagai penjuru parit. Hampir semua penghuni parit, baik di sekitar Desa, maupun desa tetangga akan memenuhi pasar ini untuk berbelanja keperluan sehari-hari untuk satu minggu ke depan. Pedagang pasar ini disebut dengan “Pembelok” yaitu pedagang yang datang seminggu sekali bergantian dari satu desa ke desa yang lain. Oh, ya, desa ini terletak di pesisir Sungai Gaung. Di sungai inilah sarana transportasi laut satu-satunya. Maka tak heran kalau penduduk desaku ini rata-rata menggunakan pompong atau sampan untuk keperluan bepergian. Setelah jalan darat sudah mulai maju barulah secara berangsur-angsur ada yang memakai motor, namun tetap saja pompong dan sampan adalah alat transportasi terbanyak di desa ini.
Penduduk desa, termasuk keluargaku adalah petani. Terutama sekali petani kelapa dan berkebun sayur dan umbi-umbian. Sesekali ada juga yang berladang. Maka tak heran kalau desaku ini kalau pagi hari sangat sunyi karena rata-rata penduduknya pergi ke kebun. Sementara anak-anak ke sekolah. Pukul 06.00 pagi kita akan menyaksikan para petani sudah siap berangkat ke kebun dengan baju khususnya, baju bekas yang tak tentu lagi warnanya. Mereka ada yang pakai pompong, sampan, bahkan berjalan kaki. Dan akan pulang pukul 5-6 sore dengan membawa berbagai sayur dan buah-buahan. Rutinitas ini dilakukan hingga selasa sore. Hari selasa inilah biasanya para petani banyak menjual hasil kebunnya berupa kelapa dan sayur-sayuran. Sedangkan hari Rabu adalah hari berbelanja. Hari kamisnya kembali rutinitas itu dilakukan. Terkadang saking tidak bisanya meninggalkan kebun walau sehari, hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi saw pun ada juga masih sempat-sempatnya ke kebun walau hanya satu jam sekedar menebas rumput atau membersihkan pohon pisang. Karena aku adalah anak sekolahan maka ketika hari libur saja aku ikut ke kebun, seperti libur sekolah atau setelah pulang sekolah.
Tak heran kalau kampungku ini adalah salah satu penghasil kelapa terbanyak di Indragiri Hilir. Hampir setiap hari berton-ton kelapa disuplai dari sini. Apakah itu kelapa bulat maupun kelapa yang sudah disalai. Kalau dulu biasanya yang menampung kelapa adalah kapal dari Pulau Sambu (PS) di sambu, Guntung, Kecamatan Kateman. Tapi sekarang sudah banyak penampung kelapa dari orang kampung sendiri, walau juga nantinya dijual di Sambu juga.
Harga kelapa setiap tahunnya selalu berubah-ubah, terkadang harga menaik, tapi lebih sering menurun. Jika harga menaik kelapa yang belum terlalu matangpun terkadang dijual oleh para petani. Ini karena mengejar waktu yang tak terduga tiba-tiba menurun. Jika harga menurun, para petani pasti mengeluh dan beralih ke sayur-sayuran atau menanam padi, walaupun tetap saja kelapa dijual murah. Inilah mungkin yang menjadikan ekonomi masyarakat petani, khusunya kelapa belum bisa sejahtera. Sistem  monopoli telah merusak sistem ekonomi kerakyatan. Padahal hasil dari kelapa tersebut juga dikonsumsi oleh para petani dengan harga yang selalu naik. Sekali lagi sementara harga kelapa tak pernah tetap apalagi menaik.
Jika suatu waktu masyarakat petani, termasuk keluargaku, tidak bisa mengkonsumsi minyak kelapa dari perusahaan (membeli dengan harga mahal), kami akan mengolah kelapa sendiri menjadi minyak kelapa. Dan sebenarnya ini lebih bagus dan aman karena diolah dengan cara alami selain juga hasilnya lebih jernih. Hanya saja ini terkadang saja dilakukan karena kalau terus dilakukan harga kelapa akan ditahan dengan harga murah oleh perusahaan, sementara uang untuk kebutuhan sehari-hari diambil dari hasil penjualan kelapa.
Sudah banyak para sarjana lahir dari desa ini dibiayai dari hasil penjualan kelapa. Dari anak-anak petani kelapa ini disekolah dan kuliahkan keberbagai sekolah dan perguruan tinggi, baik di Inhil sendiri maupun di kota-kota besar seperti Pekanbaru, Sumatera Barat, Jakarta, Jogja, dan Bandung. Ada juga yang sampai ke luar negeri seperti Mesir, Madinah, dan Maroko. Termasuk aku, bahkan sampai kini. Aku masih dapat mengenyam pendidikan tinggi dari hasil penjualan kelapa.
Aku masih ingat ketika aku ingin melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Nurul Islam di Kampungku. Karena ketika itu uang tidak ada, maka aku disuruh orang tua untuk mengumpulkan kelapa kering yang sudah jatuh. Aku kumpulkanlah kelapa-kelapa kering yang sudah jatuh satu persatu, kemudian dikupas sendiri pakai “Sungkilan” (alat untuk mengupas kelapa), seterusnya aku jual. Barulah setelah itu aku dapat mendaftar sekolah. 
Begitu juga ketika aku ingin melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Tembilahan, Ibu kota Indragiri Hilir, Aku harus mengumpulkan satu persatu kelapa kering yang jatuh. Kalau yang jatuh itu kurang banyak aku harus bersusah payah menjatuhkannya pakai “kekait”(alat untuk memotong tangkai kelapa, berbentuk sabit yang dipasangkan pada bambu panjang). Hal ini sama juga ketika aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Pekanbaru. Semua biaya selama kuliah didapat dari penjualan kelapa. Jika harga kelapa lagi tidak baik dan tak bersahabat tentu saja tidak akan mencukupi biaya kuliah. Kalau ini terjadi maka meminjam uang ke tauke tidak bisa dihindari.
Sekarang adikku sudah kelas 2 Madrasah Aliyah (setingkat SMA), dan kelas 6 Madrasah Ibtidiyah (setingkat SD). Tentu saja pengeluaran keluargaku bertambah. Kami sekeluarga adik-beradik yang 13 bersaudara harus bekerja keras mencari uang dari jalan lain, menjual sayur, membuat pompong (Abah sejak dulu hingga sekarang masih berprofesi sebagai pembuat pompong), Mamak sesekali membuat anyaman tikar pandan yang dibuat selama sebulan tetapi laku dijual hanya seharga limaribu rupiah perlembar. Karena memang tidak cukup kalau hanya berpatokan dari hasil kelapa. 
Maka tak heran keluargaku (Abah dan Mamak) tidak memanjakan kami. Kami tidak diberi uang jajan, kecuali 2-5ribu perminggu. Tidak ada mainan anak-anak di rumah kami, tidak ada pestol-pestolan di rumah kami, tidak ada boneka di rumah kami, tidak ada alat elektronik di rumah kami kecuali radio punya Abah. Kecuali ada Gasing buatan kami, pestol dari Papan buatan kami, ketapel buatan kami, mobil-mobilan buatan kami, sampan kotak buatan kami, boneka dari tanah liat buatan kami, jahitan sambungan celana buatan kami, dan layang-layang indah buatan kami.
Jika kami, terutama aku, ingin makan kue maka aku harus buat sendiri. Ingin makan udang atau ikan aku harus mancing sendiri dilaut. Ingin punya pakaian baru jahit sendiri walau pakaian lama yang diolah. Mau punya buku? Aku harus itung-itungan beli satu komik petrok atau kisah para Nabi yang harganya 500 rupiah.
Tidak ada tas baru kecuali buku tulis dibiarkan telanjang dibawa oleh tangan kasar “penyolak” kelapa, atau terkadang dimasukan dalam baju sekolah yang dipakai jika hujan datang. Tidak ada sepatu baru, kecuali jempol kaki bebas memandang dunia di ujung sepatu yang robek. Abah dan Mamak tidak ingin memanjakan kami, melainkan ingin memujakan kami dengan kerja keras dan menerima apa adanya yang dimiliki. Jika ini terjadi, maka tak heran kalau sepatu robek itu seketika dijahit dengan besi payung yang rusak sebagai jarumnya dan “tangsi” (tali untuk pancing) sebagai talinya. Melihat itu Abah dan Mamak akan tersenyum. Entah bangga atau kasian.
Sebenarnya masih banyak kisah yang akan aku ceritakan, namun cukuplah ini untuk menggambarkan sebuah desa yang jauh di ujung sumatera. Desa yang dulu hutannya sangat lebat yang kini gundul. Desa yang Anak-anaknya setiap maghrib belajar mengaji, desa yang kepala desanya tak pernah diganti hingga 15 tahun, desa yang listriknya hanya hidup 12 jam sehari, desa yang honor para gurunya bertahun-tahun tak kunjung didapat. Namun ia adalah desaku, desa tempat aku dibesarkan, tempat aku diajarkan mengaji, tempat aku dibesarkan dengan ketegaran, tempat aku mengenal alam karena sering diikutkan menyusuri sungai dan hutan, memancing ikan di tengah hutan, mencari asam hutan, mencari kayu bakar, dan banyak lagi yang mesti aku cari di hutan itu. Desa yang ekonominya diperbudak, dimonopoli. Padahal ia banyak melahirkan orang hebat sampai bapak Bupati berkali-kali datang mengunjungi sekedar memberi apresiasi. Perusahaan-perusahaan bermunculan yang kata orang tanda desa sudah maju. 
Entahlah, apapun yang terjadi di desaku, Akulah yang bertanggungjawab memperbaikinya, menjaga keindahannya, meningkatkan sumber dayanya, dan tentunya membanggakannya.
Kampungku! kau tetap saja inspirasiku
Kampungku, Bumi Melayuku, Negeriku, 27 November 2011
Jumardi

Rabu, 10 Oktober 2012

SEJARAH TINTA FLP RIAU YANG TAK PERNAH KERING Beginilah Kami Berbakti Kepada Melayu

Terbit di Majalah Frasa Edisi Agustus 2012

Oleh: Jumardi*

       Tahun 1999 merupakan tahun bersejarah bagi FLP Riau. Pada tahun itulah awal mulanya angin segar di bumi lancang kuning ini berhembus. Akan dibentuk sebuah forum kepenulisan dari perpanjangan tangan Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh Helvi Tiana Rosa pada tahun 1997. Ketika itu Majalah Annida yang merupakan majalah yang didirikan Helvi membuka pengumuman pendaftaran untuk menjadi anggota FLP di setiap provinsi di Indonesia.

       Hasil dari pendaftaran tersebut majalah Annida mengumumkan bahwa untuk provinsi Riau terdapat lebih kurang 42 orang yang mendaftar sebagai anggota termasuk Rinawati dan Rima yang kemudian ditunjuk sebagai koordinator untuk FLP Riau. Dari 42 orang tersebut yang berdomisili di Pekanbaru ada 13 orang. Sisanya menyebar di Kota Dumai, Rengat, Batam, dan Tanjung Pinang.

        Pada tahap awal disusunlah struktur organisasi FLP di Pekanbaru. Sedangkan dengan FLP di kota lain diadakan hubungan melalui surat menyurat. FLP di kota/kabupaten ini selanjutnya disebut dengan FLP Cabang.

        Peresmian FLP Riau bersamaan dengan peresmian FLP Sumbar di Padang pada bulan Agustus 2000. FLP Riau diwakili oleh Rinawati, Yosse, dan Elin Syawalina. Saat itulah FLP Riau mulai mengadakan diskusi-diskusi rutin setiap minggunya. Mulai juga mengikuti beberapa lomba kepenulisan seperti cerpen, puisi, dan penulisan novel. Cerpen Lelaki di Nagoya karya Rinawati (ketua FLP Riau pertama) masuk final dalam lomba Cipta Cerpen Islami FLP Award dalam rangka Milad FLP ke-5 tahun 2000 dan dibukukan dalam Cerita Remaja dengan judul Cinta, Ya Cinta.

        Pada tahun 2005 barulah FLP Riau mengadakan Musyawarah Wilayah Pertama tepatnya pada tanggal 19 Juni 2005. Hasil Muswil pertama itu menunjuk saudara Joni Lis Efendi sebagai ketua umum dan Rosnadeli Kartini S.  sebagai sekretaris. Selama kepengurusan Joni Lis beberapa agenda dilaksanakan, seperti Bedah Novel Meretas Ungu karya Pipiet Senja, Pelatihan Kepenulisan, Seminar Penulisan dan pernikahan bersama M. Fauzil Adhim dan Pipiet Senja, Bekerja sama dengan Riau Pos dalam rubrik Bengkel Fiksi, Kerjasama dengan Riau Tribun untuk rubrik bengkel Cerpen, Kerjsama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Riau untuk menumbuhkan minat baca dan tulis masyarakat dengan melakukan berbagai even kepenulisan. Selain itu kepengurusan ini juga pernah mengikuti Temu Sastra Sumatera I di Padang, menerbitkan buletin Orassi, dan tak kalah hebatnya pernah memenangi lomba penulisan fiksi dan nonfiksi baik tingkat lokal maupun nasional.

        Masa pengurusan Joni ini juga berhasil mengepakkan sayap cabang di Pekanbaru, Dumai, dan Kuantan. Kepengurusan ini berlangsung hingga tahun 2007.

        Pada tahun 2008 hingga 2010 kepemimpinan FLP Riau diserahkan ke Saudara Wamdi. Pada masa Wamdi ini juga tidak jauh beda gerakan kepenulisan yang diadakan oleh FLP. Beberapa lomba tingkat nasional dimenangkan oleh anggota FLP Riau, seperti juara Penulisan Cerpen Rohto, dan lainnya. Hampir semua media lokal maupun nasional setiap minggunya diisi oleh karya-karya anggota FLP Riau, seperti Riau Pos, Majalah Sagang, Majalah Girlie Zone, Tabloid Ar-Royan, Bahana Mahasiswa, Expresi Riau Pos, Koran Riau Mandiri, Majalah Sabili, Annida, Ummi, Story, Aklamasi, dan lain-lain baik cetak maupun Online.

        Pada Tahun 2011 kemaren pada jabatan Wamdi yang kedua kalinya salah seorang anggota FLP berhasil mendapat anugerah sagang bidang penelitian sastra dengan hadiah 20 juta rupiah.

        Prestasi FLP Riau dibidang kepenulisan tidak hanya sampai disitu, dari tahun ke tahun hingga sekarang (2012) FLP terus menerus menerbitkan buku baik solo maupun antologi. Hingga sekarang tercatat hampir ratusan buku sudah diterbitkan oleh penulis-penulis FLP.

        Begitulah, FLP Riau terus ikut andil mengembangkan minat baca dan tulis anak melayu dengan merekrut anggota setiap tahunnya. Harapannya anak melayu tidak surut tintanya menuliskan sejarah kejayaan melayu. Mari wujudkan penulis berbudaya. Mencerahkan juga mensejahterakan.

*Kaderisasi FLP Pekanbaru

Tenang Saat Sibuk

Terbit di Riau Pos 7 Oktober 2012 Kolom Buku

Oleh: Jumardi

Saat diri sibuk, tekanan semakin kuat, maka stres berat akan segera tiba. Amarah kadang tak terbendung, teman dekat tak lagi dihiraukan, maka terkesan sombong dan tak peduli sesama. Yang ada hanya pekerjaan ini harus segera selesai, bagaimanapun caranya.

Sang istri, anak, dan orang tua pun akhirnya mendapatkan jatah kurang perhatian. Sama tetangga sebelah rumah tidak tahu bagaimana kondisinya, hingga dengan diri sendiri pun entah apa yang perlu disegarkan. Semua menjadi dilupakan karena kesibukan-kesibukan kita yang tidak terkontrol.

Jika kesibukan kita menambah kegalauan, kekhawatiran, dan ketidaktenangan, ada yang perlu kita periksa sejenak. Mungkin kita belum menjarakkan diri kita untuk merenungi apa yang telah kita lakukan. Atau kita belum merapatkan diri dan hati kita kepada yang memberikan ketenangan. Karena rezeki yang bertambah, penghormatan yang diberikan kepada kita, dan atas mudahnya segala yang dilakukan belum tentu bisa memberikan ketenangan.

Lalu ada yang mencari kesunyian dengan maksud menghadirkan ketenangan, perbanyak sujud dan ruku` untuk mendatangkan ketenteraman dan kesejukan jiwa, namun ketenangan yang diinginkan belum juga tiba. Apa yang salah? Ada yang perlu kita jarakkan untuk melakukan hentian sejenak.

Atas sedekah dan ibadah kita, ada yang perlu kita cermati dengan jernih barangkali ada salah niat yang terselip. Atas berlimpahnya harta yang tak menambah keteduhan hati dan kesejukan jiwa, ada yang perlu kita renungi; tentang diri sendiri, tentang tetangga kita, tentang do`a-do`a kita serta berbagai hal yang berkaitan hubungan kita dengan Allah ta`ala maupun hubungan dengan sesama.

Kadang masjid yang megah, justru kosong dari hidayah. Kita sibuk memegahkan bangunannya, sementara tetangga masjid yang kekurangan justru mencari santunan kepada orang yang tidak seiman. Kadang zikir kita tak mengantarkan pada ketenangan, padahal seharusnya zikir menjadikan hati kita tenang sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur`an. Bukan al-Quran yang salah memberikan perintah, tetapi kita yang tak mengingat bahwa iman harus kita sertai dengan amal saleh. Sebagian orang berzikir bukan untuk mengingat-Nya, tetapi sekadar untuk menemukan pengalaman ekstase dikarenakan keringnya hati (halaman 10).

Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya perenungan-perenungan atas apa yang telah kita lakukan, khawatir ternyata apa yang telah kita lakukan adalah kesia-siaan. Lalu apa gunanya kita menghabiskan waktu kita untuk bekerja keras kalau akhirnya adalah kehampaan. Ibadah kita yang sampai menangis-nangis ternyata tidak membuahkan pahala, puasa kita yang hanya mendapatkan haus dan dahaga.

Maka kita perlu mengambil jarak, luangkan waktu dan lakukan hentian sejenak. Perbarui terus niat-niat kita, semoga ketenangan yang kita harapkan benar-benar dapat kita temukan.




Jumardi
Mahasiswa Ushuluddin UIN Suska Riau
Bergiat di FLP Pekanbaru

Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan
Penulis      : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit    : Pro-U Media, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
Tebal         : 342 halaman   


Kamis, 09 Agustus 2012

Spesialisasi Keilmuan dalam Menjemput Kemenangan Dakwah


Oleh : Jumardi


Pendahuluan
                Pada Muktamar keenam ustadz Hasan Al-Banna berpesan kepada para mujahid dakwah;
“Kalian adalah ghuraba (orang yang dianggap asing) yang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia. Kalian adalah kekuatan baru yang dikehendaki oleh Allah untuk membedakan yang hak dan yang bathil di saat pembeda di antara keduanya telah kabur. Kalian adalah da’i-da’i Islam , pembawa risalah Qur’an, penghubung antara langit dan bumi, pewaris Nabi Muhammad saw., dan para khalifah dari generasi sahabat.
                Dengan inilah dakwah kalian lebih unggul daripada dakwah-dakwah yang lain, dan tujuan kalian lebih mulia daripada tujuan yang lain. Kalian bersandar pada tiang yang tegar dan berpegang pada tali yang kokoh yang tidak mungkin putus.
                Kalian telah mengambil cahaya yang terang di saat manusia dalam kegelapan, tersesat, dan menyimpang dari jalan kebenaran.
“Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 21)”.
Dakwah ini mesti kokoh, kokoh dalam pengelolaan organisasinya dan kokoh para mujahid yang menggerakkannya.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”(Ash-Shaf : 4)
Sudah menjadi sunnatullah bahwa kehidupan dunia ini diciptakan kompleks. Dari semua segi sisinya dipasangkan pada persamaan dengan perbedaan, kelebihan pada kekurangan, dari objek sampai kepada subjeknya. Semuanya saling membutuhkan satu sama lainnya, saling menutupi kekurangan dengan kelebihan yang lainnya. Makhluk Tuhan mesti tak bisa menghindar dari perkara ini.
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-An’am : 165)
“Seseorang mendatangi Nabi saw., dan bertanya,”Kapan kiamat tiba?” Nabi saw. Menjawab, “Apabila amanat telah diabaikan, tunggulah kiamat tersebut”. Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana bentuk pengabaian amanat?” Nabi saw. Menjawab,”Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari Kiamat”, (H.R. Bukhari).

Kita diciptakan dengan bakat (keilmuan) tertentu untuk melakukan sebuah pekerjaan tertentu pula, (‘Aidh Bin Abdullah AL-Qarni).
Bakat (keilmuan) itu penting. Anda atau saya bisa saja berlatih menendang si kulit bundar setiap hari, tetapi tidak akan pernah menjadi pemain sepak bola yang lebih baik dari Ronaldo dan Ronaldinho. Akan tetapi, bila Ronaldo dan Ronaldinho tidak pernah latihan setiap hari, mereka mungkin masih bermain di pantai-pantai di Rio dan tinggal di daerah kumuh, (Andeers Ericsson, pakar di bidang Expert Performance Movement).
Setiap orang perlu mengambil proyek besar paling tidak sekali dalam hidupnya. Saya mededikasikan hampir seluruh hidup saya untuk menciptakan jenis mesin tenun yang baru. Sekarang, saatnya giliranmu. Kamu harus berusaha sungguh-sungguh untuk menyelesaikan sesuatu yang akan memberi manfaat bagi masyarakat, (Pesan Sakichi Toyoda kepada anaknya—Kiichiro Toyoda—pendiri Toyota Automotive Company).
Urgensi Spesialisasi (Fokus)
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat : 21)
Secerdas apapun seorang anak, tidak mungkin dia akan menguasai semua bidang ilmu. Walaupun ada yang mampu, itu hanyalah sekedar tahu sedikit-sedikit.
Manusia diciptakan berpasangan, bukan manusia saja, tumbuh-tumbuhan, hewan pun diciptakan berpasangan. Memang hal itu agar semuanya saling memberi dan menerima.  Manusia misalnya, setiap saat membutuhkan O2  untuk bernafas yang kemudian menghasilkan CO2 dari hasil pernafasannya. Tumbuhan setiap saat membutuhkan CO2 untuk permentasi yang kemudian mengeluarkan O2 dari hasil permentasinya. Manusia dan tumbuhan tidak bisa dipisahkan, keduanya saling membutuhkan.
Mengapa manusia malah tidah baik kalau menghirup CO2 yang tumbuhan malah sangat membutuhkannya? Keduanya berbeda dalam kebutuhannya. Keduanya diciptakan dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing. Disinilah kemudian diambil pelajaran bahwa dari perbedaan perlu adanya spesialisasi untuk memenuhi standar persamaan yang saling mengisi.
Kita lihat sahabat rasul, para khulafaurrasyidin. Jika kita membicarakan seorang sahabat rasul yang rela memberikan semua hartanya, pastilah kita sudah bisa menebak kalau dia adalah Abu Bakar. Umar dengan keberaniannya, mujtahid, al-faruq, Utsman dengan kedermawanan (saudagar, pengusaha), Ali dengan kelihaian bela diri, ahli sastra. Khalid dengan kepiawaiannya dalam strategi perang dan sebagainya.
Kemudian Ibnu Sina dengan ilmu kedokterannya, Al-Khawarizmi dengan matematikanya, dan ilmuan-ilmuan lainnya yang mereka pakar dan terkenal dibidang keahlian mereka masing-masing.
Mereka bukan tidak mengerti keilmuan lain, tapi mereka menonjolkan satu kepakaran dibidang yang benar-benar merekalah pakarnya, sehingga siapa saja yang membutuhkan sesuatu pastilah menuju kepadanya.
“Sesungguhnya Allah menyukai jika salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu perbuatan, lalu dia menyempurnakannya” .(H.R. Baihaqi)
Mari kita camkan,”…mengerjakan suatu perbuatan, lalu dia menyempurnakannya”, bukankah ini terkait dengan fokus terhadap aktivitas tertentu?
Ibn ‘Athailah menyinggung arti penting fokus, “Jangan sekali-kali berbuat seperti pengggali sumur yang mencari air. Ia menggali di sini sedalam sehasta, kemudian menggali di tempat lain sedalam sehasta pula. Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya, ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan”.
                Awad Bin Muhammad Al-Qarni mengatakan, “Memusatkan perhatian dalam pekerjaan dan mencari solusi dari problem yang dihadapi, kemudian melupakan perkara lain—dengan memusatkan pikiran darinya sama sekali dan mencapai satu titik, di mana kekuatan konsentrasi otak Anda mampu berperan dengan sempurna, tidak kurang sedikit pun—merupakan salah satu faktor keberhasilan dan kesuksesan hidup”.
                Ibrahim Hamid Al-Qu’ayyid mengutip Syaikh Ibnu Sa’di, bahwa salah satu prinsip kebahagiaan manusia dalam kehidupan adalah menekuni satu pekerjaan tertentu atau ilmu tertentu yang bermanfaat, membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan berusaha mewujudkan kebahagiaan atau kesuksesan yang diinginkan.             
Spesialisasi Keilmuan (Bakat)
                Rama Royani menulis, “Tidak menjadi segalanya adalah cara yang cerdik; tidak bekerja pada segalanya, kecuali terfokus pada potensi diri merupakan jalan menuju kesempurnaan”.
                Beliau menambahkan, “Luciono Pavaroti, bintang tenor, menceritakan hidupnya saat dia harus memfokuskan diri pada potensi dirinya. Pada saat lulus, dia bertanya pada ayahnya, ‘Apakah saya harus menjadi guru atai penyanyi?’ Ayahnya menjawab, ‘Kalau kamu duduk di antara dua kursi, kamu akan jatuh. Untuk hidup, pilihlah salah satu kursi’. Dia memilih menjadi penyanyi”.
                Canfield mengatakan, “Dibutuhkan tindakkan focus, disiplin pribadi, dan banyak energi setiap harinya untuk menjadikan segalanya terlaksana. Ketika sebagian besar waktu kita terfokus pada aktualisasi potensi diri kita, kita akan melihat hasil-hasil yang memuaskan”.
                Focus pada potensi keilmuan diri berarti terus menerus melatihnya. Hal tersebut agar potensi diri itu dapat benar-benar terwujud menjadi karya-karya, prestasi, atau sesuatupun yang dapat dimanfaatkan bagi orang lain. Tanpa latihan, potensi diri akan terpendam, tidak akan berkembang. Bakat itu 1 persen dan 99 persen itu usaha.
Menjemput
                Merupakan suatu kaidah amal yang penuh dengan persiapan. Ia bukan majas dan metafora, tetapi ia benar-benar sudah siap menerima segala konsekuensi rintangan dan segala keberuntungan dan kebahagiaan. Ia adalah persiapan matang yang siap saji, siap digunakan kapan dan dimana saja. Ia tidak jumud namun ia fleksibel di setiap dimana ia berada. Dakwah mengajari para da’inya untuk agar siap menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, bertakwalah kamu dimana saja kamu berada, beribadah seakan-akan kita melihat-Nya, jika kita tidak bisa melihat-Nya, yakinlah bahwa Dia melihat kita.
                Diri kader adalah “alat” untuk ia bisa beramal. Hidupnya penuh kesiapan menghadapi rabbnya. Ia siap untuk digunakan sebagai tentara, pengonsep dakwah, pemimpin, dan apapun amanah yang akan diberikan kepadanya. Persiapan itu adalah llmu dan pemahaman. Dengan bekal ilmu dan amal yang sudah ia kuasi betul tentangnya, dari segala sisi bidangnya. Dengan bekal itulah ia beramal secara sungguh-sungguh dan professional. Dan hanya dengan keprofesionalanlah segala amal-amalnya akan maksimal dan sempurna, yang akhirnya menghasilkan kinerja yang sempurna pula. Kader penggerak seperti itulah yang siap diletakkan dimana saja, ia siap dipanggil kapan saja untuk menyelesaikan kerja-kerjanya.
                Mereka ada yang pakar dibidang teknologi, ia professional dalam keilmuannya dan bekerja sesuai keahliannya. Ia tidak akan menolak mengerjakan amanah dibidangnya, dan itulah sebenarnya yang ia harapkan dan inginkan. Mereka ada yang pakar dibidang ekonomi, lalu ia merumuskan permasalahan perekonomian, ia berusaha mengembalikan ekonomi Islami hingga tidak ada lagi riba dan Islam satu-satunya yang tegak dengan ekonomi Islamnya.   
Kemenangan Dakwah
                Kemenangan hanya didapatkan dari sudah lamanya usaha untuk mencapainya, maksimalnya kerja-kerja profesional para da’inya, dan sudah siapnya para pakar kelimuan yang mengisi bidang-bidang kehidupan pada fase kemenangan itu.
                Globalilsasi tidak memungkinkan kita menyimpan makna Islam, ia mesti muncul pada setiap level kebutuhan sosial masyarakat bangsa. Karena sistem non Islam sudah memunculkan polahnya bahkan sampai pada semua level kehidupan masyarakat bangsa. Untuk menenggelamkannya tidak mesti harus menghancurkannya, dengan radikalisme yang menakutkan semua orang. Lagipula tidak mungkin hal itu bisa dilakukan, melihat pelakunya adalah umat Islam sendiri. Hal yang dapat dan kita usahakan adalah dengan menutupinya dengan sistem Islam dari semua level yang ditimbulkan sistem non Islam tersebut. Hal itulah kita mesti menyiapkan sumber daya dari semua level itu. Baik modalnya maupun pekerjanya.
                Untuk menutupi sistem ribawi dengan syari’ah, sistem thaghut dengan sistem Islam, semuanya harus ditutupi dengan wajah Islam. Sebagaimana hukum perhubungan dan sosio masyarakat, masyarakat lebih cendrung kepada yang sering mereka jumpai dan dominan mereka dengar. Tugas kita adalah mendominankan sistem Islam dari segala level dan jenisnya untuk melenyapkan sistem thaghut secara perlahan dan tidak radikal.
                Jika semua dari level keilmuan ini tidak terpenuhi oleh para da’i, maka perubahan kearah Islam akan sulit dicapai. Karena sekali lagi masyarakat lebih suka yang lebih sering mereka jumpai dan dominan mereka dengar.
Dakwah dan para da’inya akan benar-benar siap menjemput kemenangan dakwah jika semua level itu terpenuhi dengan baik dan terorganisir secara profesional.